Minggu, 12 Juni 2016

KURSI NOMOR TIGA PULUH



Perjalanan pulang dari Ibukota menjadi pengalaman yang luar biasa karena dalam satu hari penerbangan pulang pergi saya mendapatkan tempat yang begitu nyaman yaitu kursi nomor tiga puluh. Tempat duduknya begitu lega, luas, sehingga kaki saya dapat selonjor dengan leluasa. Seperti biasa setelah mengenakan sabuk pengaman ada awak kabin yang meminta perhatian untuk nomor kursi yang dekat dengan pintu darurat termasuk nomor kursi tiga puluh yang saya duduki. Saya baru menyadari baik ketika berangkat maupun kembali saya duduk di nomor yang sama dan baru memperhatikan secara seksama apa yang disampaikan awak kabin. Mereka menyampaikan bahwa untuk penumpang yang duduk di dekat pintu darurat diberikan tempat yang lebih luas dan tempat kaki yang longgar. Hal ini ditujukan agar lebih leluasa dan dapat bergerak lebih cepat jika pesawat dalam kondisi darurat.
Kondisi darurat, kata-kata inilah yang senantiasa terngiang di telinga saya. Sebelumnya saya hanya melihat kursi nomor tiga puluh dari sudut pandang kenyamanan tanpa menyadari ada tanggung jawab dibalik kenyamanan tersebut. Belum selesai dengan pemikiran-pemikiran yang ada di benak saya, awak kabin menanyakan kepada penumpang yang duduk didekat pintu darurat apabila menghendaki untuk pindah tempat akan dibantu oleh awak kabin. Luar biasa, berarti tanggung jawab yang diemban oleh penumpang di kursi nomor tiga puluh tidak main-main sampai ada tawaran seperti itu. Bukan sekedar naik pesawat, dapat tempat duduk yang lebih longgar untuk meletakan kaki dan nyaman tapi bertanggung jawab secara cepat, tepat apabila ada kondisi darurat. 
 Ya, kondisi darurat. Perlu diingat dan dipahami betul karena kebanyakan dari kita secara manusiawai akan menilai segala sesuatu pada awalnya untuk kenyamanan diri kita sendiri terlebih dulu. Baik tidak?Nyaman tidak?Memadai tidak fasilitasnya?Sesuai tidak? Pertanyaan umum yang lebih mengutamakan diri pribadi yang lebih dulu muncul ketika berbicara tentang kenyamanan. Namun agar nyaman harus apa dan bagaimana seringkali dilupakan atau bahkan dihindari. Jarang sekali kita bertanya, supaya baik harus bagaimana?supaya nyaman harus melakukan apa? Seperti kursi nomor tiga puluh yang saya duduki tadi menggambarkan bahwa setiap kenyamanan yang ditawarkan selalu ada harga yang harus dibayar yaitu sebuah tanggungjawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar