Perjalanan pulang dari Ibukota menjadi pengalaman yang
luar biasa karena dalam satu hari penerbangan pulang pergi saya mendapatkan
tempat yang begitu nyaman yaitu kursi nomor tiga puluh. Tempat duduknya begitu
lega, luas, sehingga kaki saya dapat selonjor dengan leluasa. Seperti biasa
setelah mengenakan sabuk pengaman ada awak kabin yang meminta perhatian untuk
nomor kursi yang dekat dengan pintu darurat termasuk nomor kursi tiga puluh
yang saya duduki. Saya baru menyadari baik ketika berangkat maupun kembali saya
duduk di nomor yang sama dan baru memperhatikan secara seksama apa yang
disampaikan awak kabin. Mereka menyampaikan bahwa untuk penumpang yang duduk di
dekat pintu darurat diberikan tempat yang lebih luas dan tempat kaki yang
longgar. Hal ini ditujukan agar lebih leluasa dan dapat bergerak lebih cepat
jika pesawat dalam kondisi darurat.
Kondisi darurat, kata-kata inilah yang senantiasa
terngiang di telinga saya. Sebelumnya saya hanya melihat kursi nomor tiga puluh
dari sudut pandang kenyamanan tanpa menyadari ada tanggung jawab dibalik
kenyamanan tersebut. Belum selesai dengan pemikiran-pemikiran yang ada di benak
saya, awak kabin menanyakan kepada penumpang yang duduk didekat pintu darurat
apabila menghendaki untuk pindah tempat akan dibantu oleh awak kabin. Luar
biasa, berarti tanggung jawab yang diemban oleh penumpang di kursi nomor tiga
puluh tidak main-main sampai ada tawaran seperti itu. Bukan sekedar naik
pesawat, dapat tempat duduk yang lebih longgar untuk meletakan kaki dan nyaman
tapi bertanggung jawab secara cepat, tepat apabila ada kondisi darurat.
Ya, kondisi darurat.
Perlu diingat dan dipahami betul karena kebanyakan dari kita secara manusiawai
akan menilai segala sesuatu pada awalnya untuk kenyamanan diri kita sendiri
terlebih dulu. Baik tidak?Nyaman tidak?Memadai tidak fasilitasnya?Sesuai tidak?
Pertanyaan umum yang lebih mengutamakan diri pribadi yang lebih dulu muncul
ketika berbicara tentang kenyamanan. Namun agar nyaman harus apa dan bagaimana
seringkali dilupakan atau bahkan dihindari. Jarang sekali kita bertanya, supaya
baik harus bagaimana?supaya nyaman harus melakukan apa? Seperti kursi nomor
tiga puluh yang saya duduki tadi menggambarkan bahwa setiap kenyamanan yang
ditawarkan selalu ada harga yang harus dibayar yaitu sebuah tanggungjawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar