Pertanyaan unik dilontarkan pelatih bisnis saya ketika
awal mula kami bertemu. Jika esok kamu atau orang tuamu meninggal apa yang akan
terjadi? Saya sendiri terdiam beberapa saat dan terasa sulit sekali menjawab
pertanyaan itu. Dalam hati mengatakan mana mungkin, saya masih kepala tiga (3)
dan orang tua masih sehat bugar. Lama termenung dan beliau melanjutkan
pertanyaannya, “Berpikir masih muda dan orang tua masih sehat?” Kok tahu,
begitu kira-kira yang terlontar dari mulut saya. Beliau berujar pada saya bahwa
pertanyaan yang sama pernah dilontarkan mentornya 30 tahun yang lalu. Wuih,
pertanyaan 30 tahun yang lalu, lama sekali pikir saya.
Tapi pertanyaan itulah yang menjadikan pelatih saya punya
bisnis yang menghidupi banyak orang, sosial kemasyarakatan tidak ketinggalan, dan
pelayanan keagamaan juga jalan. Keren dan sayapun melamun bisa melakukan hal
yang sama. Namun ditengah asyiknya melamun, ucapan beliau membuyarkan semuanya,
“ Inget kita tidak tahu rahasia Tuhan. Coba jawab saja pertanyaan tadi”,
ujarnya. Ia kemudian menyuruh saya untuk
menulis apa yang akan terjadi jika saya atau orang tua saya meninggal.
Keesokan harinya setelah bangun saya coba menuliskan yang
akan terjadi jika orang tua saya meninggal : Sedih. Jika saya meninggal :
takut. Siangnya coba saya tuliskan lagi, jika orang tua meninggal : tidak ada
tempat berkeluh kesah, lebih parah lagi meminta. Jika saya meninggal : kasihan
anak istri berjuang sendiri dalam kehidupan. Selanjutnya semakin banyak yang
saya tuliskan dan kebanyakan menggunakan kata yang cenderung menyedihkan,
terpuruk, dan seolah-olah tak ada yang
bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Seminggu berlalu, saya mencoba menghubungi pelatih saya
untuk menanyakan hasil jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan. Di ujung
telepon dia hanya terkekeh dan mengatakan “Apakah kamu benar-benar hidup
selama ini?” Saya agak terkejut juga mendengar pertanyaan tersebut dan langsung
saya jawab “ Masak mati selama ini, zombie donk saya?”. Beliau hanya melanjutkan,
“Coba kau tanyakan minimal pada orang tua, istri, dan anakmu tiga pertanyaan
ini :
1.
Apakah
orang tuamu bangga denganmu? Jika ya, apa yang membuatnya bangga?
2.
Apakah
anak dan istrimu bangga denganmu? Jika ya, apa yang membuatnya bangga?
3.
Apakah
mereka semua ikhlas jika kamu meninggal besuk? Jika ya, apa yang membuat mereka
ikhlas?”
Beliau mengatakan tiga pertanyaan itu cukup
menggambarkan seberapa berarti hidup saya selama ini dan jika keesokan hari
saya masih diberikan kesempatan membuka mata, lakukan minimal yang membuat
orang tua, anak dan istri bangga sehingga kelak jika keesokan hari meninggal
mereka ikhlas melepasmu menghadap Sang Pencipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar