Jumat, 24 Juni 2016

KUALITAS DIRI DALAM PERTANYAAN



Murid (M)
Guru (G)
>> Ekspresi yang ditampilkan
M            : Permisi guru.
G             : Masuklah! Ada apa muridku? >> mata terpejam posisi bersila
M            : Guru,saya ingin bertanya dan berdiskusi.
G             : Bijaklah dalam bertanya muridku >> posisi semula dengan mengulaskan senyum
M            : Apakah dengan menyeimbangkan batin saya bisa sukses Guru? >> penuh semangat
G             : Ada dua kata yang kamu berikan penekanan, batin dan sukses.
M            : Betul Guru. Setiap kali belajar ilmu dari Guru saya membayangkan sukses di masa mendatang
G             : Lebih mengerucut yang kau ulangi kata sukses.>> menghela nafas
                  Apa makna sukses menurutmu muridku?
M            : Saya ingin memiliki banyak hal ketika meraih sukses Guru.
G             : Ketiga kalinya kau mengulangi kata sukses muridku.>> membuka mata
M            : Mengapa Guru hanya berhitung kata sukses yang saya ucapkan?
G             : Muridku,di awal percakapan sudah aku katakan bijaklah dalam bertanya.
M            : Betul Guru.
G             : Aku hanya menelaah apa yang menjadi fokus pertanyaanmu.
M            : >> Mengangguk pelan dengan rasa bingung
G             : Muridku, setiap pertanyaan adalah cerminan kualitas dari si penanya.
M            : Saya tidak mengerti Guru. Apakah hubungannya dengan memiliki banyak hal ketika sukses?
G             : Kau mengulanginya lagi bukan? Aku tidak perlu bertanya tujuanmu tetapi dari apa yang kau tanyakan berulang-ulang sudah nampak. Kau bicara bukan dari sisi keseimbangan batin sebagai sarana tapi dari tujuan akhir yaitu kesuksesan
M            : Maaf Guru, saya masih belum paham.
G             : Muridku, setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki tujuan dan untuk mencapainya diperlukan sarana. Itu semua tercermin jika seseorang bertanya.
M            : Saya mulai sedikit mengerti Guru.
G             : Jika seseorang ingin menuju suatu tempat bukankah dia menanyakan arah kemudian cara mencapainya? Dan akan terus bertanya jika belum mencapai tujuannya bukan?
M            : Betul Guru.>> sambil menunduk dan merenung
G             : Itulah yang dinamakan kualitas diri muridku. Kualitas diri seseorang dapat terlihat jelas ketika bertanya. Sehebat apapun argument diungkapkan dan detail disampaikan seseorang, pertanyaanlah yang menjadi kunci menilai kualitas diri.
M            : Mengerti Guru.
G             : Tiliklah kembali melalui semadi, bertanya dan berdialoglah dengan batinmu sendiri berulang-ulang maka kau akan lebih memahami kualitas dirimu dan alasan mengapa kau berada disini.
M            : Baik Guru.
G             : Mengenai kesuksesan yang kau tanyakan, bukankah ukuran yang kau pakai karena melihat orang lain seolah-olah memiliki yang tidak kau miliki?
M            : >> Mengangguk
G             : Kembalilan bersemadi dengan mengingat Dhammapada “Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan orang lain. Tetapi perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.”
                 

Selasa, 21 Juni 2016

PILIHAN KEMASAN


 
Dulu adik bungsu saya pernah bertanya kenapa setiap kali berkirim produk harus dikemas rapi. Saya tersenyum mendengar pertanyaannya dan mencoba menjelaskan berdasarkan common sense saya karena jika dijelaskan teori tentang kemasan membutuhkan kajian yang cukup lama. Sebuah produk itu ibarat kita sendiri, sama-sama memiliki empat kemungkinan ketika datang ke konsumen :
1.      Produk dengan kemasan rapi menarik namun isinya kurang berkualitas.
Produk ini pasti menyenangkan ketika datang dan dilihat konsumen. Dengan penampilan menarik, kekinian, dan terlihat semarak pasti diterima dengan senang hati. Namun dalam proses berikutnya yang diharapkan konsumen bukan hanya kemasan tapi apa yang ada di dalam kemasan yaitu produk itu sendiri. Apa jadinya jika ternyata produk yang ada di dalam kemasan tidak sesuai dengan ekspektasi, pastilah konsumen tidak akan membeli lagi dan lebih parah lagi diberitakan bahwa produk ini hanya bagus kemasannya tapi isinya tidak berkualitas. Ibarat orang yang didukung penampilan luar menarik namun niatnya kurang baik maka lama-kelamaan kualitas sebenarnya ketahuan walaupun membutuhkan waktu yang lama.
2.      Produk dengan kemasan kurang menarik namun isinya berkualitas.
Produk ini tidak menyenangkan ketika datang dan dilihat konsumen. Dengan penampilan kurang menarik dan tidak sedap dipandang maka konsumen memiliki dua pilihan yaitu tidak jadi membeli walaupun sebetulnya isi berkualitas atau konsumen bisa iseng-iseng mencoba. Ini akan memakan waktu lama bagi sebuah produk yang berkualitas untuk bisa diterima dikonsumen karena kemasan yang mencerminkan isi tidak terwakili. Ibarat orang yang penampilannya tidak menarik namun niat sebenarnya baik maka orang lain akan ragu-ragu untuk menerima niatnya tersebut sehingga perlu memperbaiki penampilan.
3.      Produk dengan kemasan menarik dengan isi berkualitas.
Kalau yang ini menjadi harapan semua konsumen bahwa kemasan yang menarik mewakili isi yang berkualitas. Produk dengan kemungkinan ini pasti melekat di hati konsumen karena sesuai antara kemasan dengan kualitas isi. Poin ini jika diibaratkan orang maka ekspektasi luar dihasilkan oleh apa yang ada didalam dirinya.
4.      Produk dengan kemasan kurang menarik dan isinya tidak berkualitas
Kalau yang ini paling cepat ditinggalkan konsumen karena melihat saja kemasannya sudah tidak menarik dan ternyata ada yang mencoba kualitasnya juga kurang. Poin ini ibarat orang adalah orang yang terlampau cuek dan ego terlalu tinggi.
Keempat kemungkinan di atas adalah pilihan tentang kemasan. Mau hanya baik kemasannya saja,baik isinya saja, atau baik kedua-duanya dipersilahkan karena pilihan adalah hak masing-masing individu tapi disarankan untuk tidak memilih yang kemungkinan yang keempat.

Minggu, 12 Juni 2016

KURSI NOMOR TIGA PULUH



Perjalanan pulang dari Ibukota menjadi pengalaman yang luar biasa karena dalam satu hari penerbangan pulang pergi saya mendapatkan tempat yang begitu nyaman yaitu kursi nomor tiga puluh. Tempat duduknya begitu lega, luas, sehingga kaki saya dapat selonjor dengan leluasa. Seperti biasa setelah mengenakan sabuk pengaman ada awak kabin yang meminta perhatian untuk nomor kursi yang dekat dengan pintu darurat termasuk nomor kursi tiga puluh yang saya duduki. Saya baru menyadari baik ketika berangkat maupun kembali saya duduk di nomor yang sama dan baru memperhatikan secara seksama apa yang disampaikan awak kabin. Mereka menyampaikan bahwa untuk penumpang yang duduk di dekat pintu darurat diberikan tempat yang lebih luas dan tempat kaki yang longgar. Hal ini ditujukan agar lebih leluasa dan dapat bergerak lebih cepat jika pesawat dalam kondisi darurat.
Kondisi darurat, kata-kata inilah yang senantiasa terngiang di telinga saya. Sebelumnya saya hanya melihat kursi nomor tiga puluh dari sudut pandang kenyamanan tanpa menyadari ada tanggung jawab dibalik kenyamanan tersebut. Belum selesai dengan pemikiran-pemikiran yang ada di benak saya, awak kabin menanyakan kepada penumpang yang duduk didekat pintu darurat apabila menghendaki untuk pindah tempat akan dibantu oleh awak kabin. Luar biasa, berarti tanggung jawab yang diemban oleh penumpang di kursi nomor tiga puluh tidak main-main sampai ada tawaran seperti itu. Bukan sekedar naik pesawat, dapat tempat duduk yang lebih longgar untuk meletakan kaki dan nyaman tapi bertanggung jawab secara cepat, tepat apabila ada kondisi darurat. 
 Ya, kondisi darurat. Perlu diingat dan dipahami betul karena kebanyakan dari kita secara manusiawai akan menilai segala sesuatu pada awalnya untuk kenyamanan diri kita sendiri terlebih dulu. Baik tidak?Nyaman tidak?Memadai tidak fasilitasnya?Sesuai tidak? Pertanyaan umum yang lebih mengutamakan diri pribadi yang lebih dulu muncul ketika berbicara tentang kenyamanan. Namun agar nyaman harus apa dan bagaimana seringkali dilupakan atau bahkan dihindari. Jarang sekali kita bertanya, supaya baik harus bagaimana?supaya nyaman harus melakukan apa? Seperti kursi nomor tiga puluh yang saya duduki tadi menggambarkan bahwa setiap kenyamanan yang ditawarkan selalu ada harga yang harus dibayar yaitu sebuah tanggungjawab.

Kamis, 09 Juni 2016

JIKA ESOK MENINGGAL ??



Pertanyaan unik dilontarkan pelatih bisnis saya ketika awal mula kami bertemu. Jika esok kamu atau orang tuamu meninggal apa yang akan terjadi? Saya sendiri terdiam beberapa saat dan terasa sulit sekali menjawab pertanyaan itu. Dalam hati mengatakan mana mungkin, saya masih kepala tiga (3) dan orang tua masih sehat bugar. Lama termenung dan beliau melanjutkan pertanyaannya, “Berpikir masih muda dan orang tua masih sehat?” Kok tahu, begitu kira-kira yang terlontar dari mulut saya. Beliau berujar pada saya bahwa pertanyaan yang sama pernah dilontarkan mentornya 30 tahun yang lalu. Wuih, pertanyaan 30 tahun yang lalu, lama sekali pikir saya.
Tapi pertanyaan itulah yang menjadikan pelatih saya punya bisnis yang menghidupi banyak orang, sosial kemasyarakatan tidak ketinggalan, dan pelayanan keagamaan juga jalan. Keren dan sayapun melamun bisa melakukan hal yang sama. Namun ditengah asyiknya melamun, ucapan beliau membuyarkan semuanya, “ Inget kita tidak tahu rahasia Tuhan. Coba jawab saja pertanyaan tadi”, ujarnya.  Ia kemudian menyuruh saya untuk menulis apa yang akan terjadi jika saya atau orang tua saya meninggal.
Keesokan harinya setelah bangun saya coba menuliskan yang akan terjadi jika orang tua saya meninggal : Sedih. Jika saya meninggal : takut. Siangnya coba saya tuliskan lagi, jika orang tua meninggal : tidak ada tempat berkeluh kesah, lebih parah lagi meminta. Jika saya meninggal : kasihan anak istri berjuang sendiri dalam kehidupan. Selanjutnya semakin banyak yang saya tuliskan dan kebanyakan menggunakan kata yang cenderung menyedihkan, terpuruk, dan  seolah-olah tak ada yang bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Seminggu berlalu, saya mencoba menghubungi pelatih saya untuk menanyakan hasil jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan. Di ujung telepon dia hanya terkekeh dan mengatakan  “Apakah kamu benar-benar hidup selama ini?” Saya agak terkejut juga mendengar pertanyaan tersebut dan langsung saya jawab “ Masak mati selama ini, zombie donk saya?”. Beliau hanya melanjutkan, “Coba kau tanyakan minimal pada orang tua, istri, dan anakmu tiga pertanyaan ini :
1.      Apakah orang tuamu bangga denganmu? Jika ya, apa yang membuatnya bangga?
2.      Apakah anak dan istrimu bangga denganmu? Jika ya, apa yang membuatnya bangga?
3.      Apakah mereka semua ikhlas jika kamu meninggal besuk? Jika ya, apa yang membuat mereka ikhlas?”
 
Beliau mengatakan tiga pertanyaan itu cukup menggambarkan seberapa berarti hidup saya selama ini dan jika keesokan hari saya masih diberikan kesempatan membuka mata, lakukan minimal yang membuat orang tua, anak dan istri bangga sehingga kelak jika keesokan hari meninggal mereka ikhlas melepasmu menghadap Sang Pencipta.