Selasa, 07 Juni 2016

GAGAL ITU BELAJAR, BUKAN KESIMPULAN


               Seringkali tulisan-tulisan yang ada membahas bagaimana keberhasilan/kesuksesan itu menjadi bahan baku utama dan menjadi tujuan hidup dari semua orang. Tidak salah dan menyalahkan tapi itulah realita bahwa setiap manusia hidup berdasarkan semangat untuk sukses. Hanya saja satu yang sering terlewatkan atau mungkin malah dihindari, semoga saja pembaca yang luar biasa juga sependapat, proses atau tahapan menuju kesuksesan itu sendiri. Coba saja jika ada buku yang berjudul CARA CEPAT MENJADI KAYA atau tulisan berjudul KAYA DALAM SATU HARI pasti laris manis dibeli. Siapa yang tidak ingin menjadi kaya apalagi dalam sehari loh pembaca. Saya saja tidak perlu ditanya pasti mau. Hehehehe
               Tapi yang akan dibahas dalam tulisan saya ini bukan mengenai buku atau malah bedah buku, nanti bisa diprotes sama penulisnya atau bahkan penerbitnya. Setelah membeli buku biasanya apa sih yang para pembaca sekalian lakukan ? membaca pastinya, tapi sekali lagi bukan masalah membacanya. Lah, pasti pembaca bingung, ini penulis niat gak sih cuma muter-muter dari tadi. Sabar pembaca, karena inilah ujian sebenarnya. Persepsi pertama pembaca ketika membaca buku yang luar biasa tersebut pasti keinginan bagaimana sih agar cepat kaya. Halaman demi halaman dibolak-balik sampai selesai, setelah itu ?? berapa banyak yang mulai action/bertindak ?? kadang ada yang bertindak, kadang ada yang suka mengulang-ulang membaca dan lain sebagainya. Pokoknya responnya bermacam-macam, bahkan kadang ada yang tidak puas dengan isi buku KAYA DALAM SEHARI kemudian mencari buku KAYA DALAM 30 MENIT. Siapa yang galau demikian, tunjuk jari. Hehehe.
                Buku kisah sukses pada dasarnya ditulis dari pengalaman yang telah dilakukan oleh sumber yang ditulis dalam buku itu sendiri. Jadi perspektifnya adalah hasil tindakan bukan hanya hasil kegiatan membaca. Membaca penting, tapi tindakan berkali-kali lipat lebih penting. Dengan bertindak kita akan tahu sejauh mana kita mencapai tujuan kita dan dengan tindakan pula kita dapat mengevaluasi diri. Apakah dengan tindakan sudah dapat dipastikan kita akan KAYA ? pertanyaan yang biasa muncul. Tidak ada yang dapat memastikan selain kita sendiri, apakah kita bertindak mendekati tujuan yaitu KAYA ataukah malah menjauhi. Disini kunci tindakan yang sebenarnya mulai bekerja. Walaupun perspektif KAYA bisa diartikan dalam banyak hal namun untuk mencapainya tetap sama yaitu bertindak. Namun mengapa banyak yang tidak sampai pada tujuan KAYA karena dalam bertindak mereka menjauhi. Baru bertindak sebentar sudah galau lagi, bertanya lagi, “nanti betul bisa kaya gak ya?” atau baru bertemu GAGAL sebentar sudah menyerah dan ingin mencari jalan pintas. Perlu diingat bahwa GAGAL itu belajar. Sekali lagi saya tekankan bahwa GAGAL itu belajar. Ini yang sering dilupakan bahkan di otak kita sudah terprogram bahwa GAGAL itu memalukan. Jadi pantas saja jika setiap orang menghindari yang namanya GAGAL. Lalu apa enak dan baiknya sih Si GAGAL ini ? Awal waktu mengalami GAGAL dipastikan semua orang mengalami perasaan tidak enak tetapi bagi orang yang menganggap GAGAL itu belajar akan bertindak lebih baik lagi dan lagi. Mereka yang demikian akan terus belajar dan dapat dipastikan berikutnya mereka akan GAGAL lagi dan kemudian bertindak lebih baik lagi dengan focus satu tujuan yaitu KAYA. Kalau GAGAL lagi gimana ? Ya bertindak lebih baik lagi dengan cara baru yang inovatif. Karena kebanyakan GAGAL diawal membuat banyak orang menyerah kemudian berganti haluan yang mengakibatkan mereka harus mulai lagi dari awal. Jika haluan berikutnya GAGAL lagi, mereka berganti haluan lagi sehingga bukannya mendekat ke tujuan mereka malah menjauh karena berganti-ganti haluan. Coba bayangkan, sebuah pesawat yang menuju kota A ketika ditengah perjalanan bertemu awan badai kemudian berganti haluan ke kota B, sayangnya ketika perjalanan ke kota B pesawat mengalami masalah satu mesin mati dan berupaya berganti haluan ke kota C yang lebih dekat. Tapi nahas belum sampai di kota C mesin yang satu rusak karena menghisap burung ketika pesawat terbang agak rendah. Bisa dibayangkan nasib sial yang dialami pesawat karena berganti-ganti haluan. Namun itu hanya gambaran saja, bagaimana focus dan mengubah pandangan terhadap keGAGALan lebih penting. Dengan mengubah cara pandang maka kita akan mengamini bahwa GAGAL adalah proses belajar, bukanlah kesimpulan. Kesimpulan terbaik datang dari tindakan kita berikutnya setelah mengalami kegagalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar