Seringkali
tulisan-tulisan yang ada membahas bagaimana keberhasilan/kesuksesan itu menjadi
bahan baku utama dan menjadi tujuan hidup dari semua orang. Tidak salah dan
menyalahkan tapi itulah realita bahwa setiap manusia hidup berdasarkan semangat
untuk sukses. Hanya saja satu yang sering terlewatkan atau mungkin malah
dihindari, semoga saja pembaca yang luar biasa juga sependapat, proses atau
tahapan menuju kesuksesan itu sendiri. Coba saja jika ada buku yang berjudul
CARA CEPAT MENJADI KAYA atau tulisan berjudul KAYA DALAM SATU HARI pasti laris
manis dibeli. Siapa yang tidak ingin menjadi kaya apalagi dalam sehari loh
pembaca. Saya saja tidak perlu ditanya pasti mau. Hehehehe
Tapi yang akan
dibahas dalam tulisan saya ini bukan mengenai buku atau malah bedah buku, nanti
bisa diprotes sama penulisnya atau bahkan penerbitnya. Setelah membeli
buku biasanya apa sih yang para pembaca sekalian lakukan ? membaca pastinya,
tapi sekali lagi bukan masalah membacanya. Lah, pasti pembaca bingung, ini
penulis niat gak sih cuma muter-muter dari tadi. Sabar pembaca, karena inilah
ujian sebenarnya. Persepsi pertama pembaca ketika membaca buku yang luar biasa
tersebut pasti keinginan bagaimana sih agar cepat kaya. Halaman demi halaman
dibolak-balik sampai selesai, setelah itu ?? berapa banyak yang mulai action/bertindak ?? kadang ada yang
bertindak, kadang ada yang suka mengulang-ulang membaca dan lain sebagainya.
Pokoknya responnya bermacam-macam, bahkan kadang ada yang tidak puas dengan isi
buku KAYA DALAM SEHARI kemudian mencari buku KAYA DALAM 30 MENIT. Siapa yang
galau demikian, tunjuk jari. Hehehe.
Buku kisah sukses pada
dasarnya ditulis dari pengalaman yang telah dilakukan oleh sumber yang ditulis
dalam buku itu sendiri. Jadi perspektifnya adalah hasil tindakan bukan hanya
hasil kegiatan membaca. Membaca penting, tapi tindakan berkali-kali lipat lebih
penting. Dengan bertindak kita akan tahu sejauh mana kita mencapai tujuan kita
dan dengan tindakan pula kita dapat mengevaluasi diri. Apakah dengan tindakan
sudah dapat dipastikan kita akan KAYA ? pertanyaan yang biasa muncul. Tidak ada
yang dapat memastikan selain kita sendiri, apakah kita bertindak mendekati
tujuan yaitu KAYA ataukah malah menjauhi. Disini kunci tindakan yang sebenarnya
mulai bekerja. Walaupun perspektif KAYA bisa diartikan dalam banyak hal namun
untuk mencapainya tetap sama yaitu bertindak. Namun mengapa banyak yang tidak
sampai pada tujuan KAYA karena dalam bertindak mereka menjauhi. Baru bertindak
sebentar sudah galau lagi, bertanya lagi, “nanti betul bisa kaya gak ya?” atau
baru bertemu GAGAL sebentar sudah menyerah dan ingin mencari jalan pintas.
Perlu diingat bahwa GAGAL itu belajar. Sekali lagi saya tekankan bahwa GAGAL
itu belajar. Ini yang sering dilupakan bahkan di otak kita sudah terprogram
bahwa GAGAL itu memalukan. Jadi pantas saja jika setiap orang menghindari yang
namanya GAGAL. Lalu apa enak dan baiknya sih Si GAGAL ini ? Awal waktu
mengalami GAGAL dipastikan semua orang mengalami perasaan tidak enak tetapi
bagi orang yang menganggap GAGAL itu belajar akan bertindak lebih baik lagi dan
lagi. Mereka yang demikian akan terus belajar dan dapat dipastikan berikutnya
mereka akan GAGAL lagi dan kemudian bertindak lebih baik lagi dengan focus satu
tujuan yaitu KAYA. Kalau GAGAL lagi gimana ? Ya bertindak lebih baik lagi
dengan cara baru yang inovatif. Karena kebanyakan GAGAL diawal membuat banyak
orang menyerah kemudian berganti haluan yang mengakibatkan mereka harus mulai
lagi dari awal. Jika haluan berikutnya GAGAL lagi, mereka berganti haluan lagi
sehingga bukannya mendekat ke tujuan mereka malah menjauh karena berganti-ganti
haluan. Coba bayangkan, sebuah pesawat yang menuju kota A ketika ditengah
perjalanan bertemu awan badai kemudian berganti haluan ke kota B, sayangnya
ketika perjalanan ke kota B pesawat mengalami masalah satu mesin mati dan
berupaya berganti haluan ke kota C yang lebih dekat. Tapi nahas belum sampai di
kota C mesin yang satu rusak karena menghisap burung ketika pesawat terbang
agak rendah. Bisa dibayangkan nasib sial yang dialami pesawat karena berganti-ganti
haluan. Namun itu hanya gambaran saja, bagaimana focus dan mengubah pandangan
terhadap keGAGALan lebih penting. Dengan mengubah cara pandang maka kita akan
mengamini bahwa GAGAL adalah proses belajar, bukanlah kesimpulan. Kesimpulan
terbaik datang dari tindakan kita berikutnya setelah mengalami kegagalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar